Monday, April 01, 2013

Imigrasi ke Negera "Kaya" atau "Bahagia"?

annida-online.com - inspirasi tak bertepi

Sobat Nida pernah gak nangis karena dompetnya kosong? Atau seharian gak bisa ngapa-ngapain karena belum gajian atau belum dapat uang saku? Alhamdulillah walaupun belum punya banyak uang, setiap hari kita masih bisa makan cukup. Paling tidak kita tak perlu beli tabung oksigen dulu buat bernafas. Jadi, masih punya modal untuk aktivitas. Insha Allah yang udah punya ilmu syukur itu semua tidak pengaruh apa-apa ya...



Karena banyak kasus korupsi belakangan ini, rakyat kita merasa pilu sekali. Sampai-sampai beberapa orang ingin pindah ke negara lain saja. Mereka yakin di negara lain–terutama negara yang lebih maju dan kaya—bisa memperbaiki kehidupan mereka. Tapi apakah benar begitu? Bukannya saat ini malah kebanyakan yang mengalami krisis ekonomi akut adalah negara-negara maju? Bahkan termasuk negara yang dikenal sebagai cikal bakal pengetahuan dan peradaban manusia. Mari kita ambil contoh Yunani. Negara ini melahirkan tokoh-tokoh penggagas teori-teori ilmu pengetahuan yang ternama. Sebut saja Aristoteles, Plato, dan Socrates. Sangat disayangkan sejarah besar ini tidak memperbaiki apa-apa untuk saat ini.
Bukan hanya Yunani, hampir seluruh negara Barat sedang mengalami kesusahan. Negara-negara yang terparah krisisnya mendapat julukan yang begitu menyedihkan. Sobat Nida pasti tahu terjemahan dari PIGS kan ya? Tapi sekarang artinya bukan nama dari jenis hewan yang ”itu”, hehe. Kata ini ditulis huruf besar karena merupakan gabungan dari beberapa negara Eropa: Portugal, Italy, Greece (Yunani), dan Spain (Spanyol). Hampir setiap hari demo bahkan kerusuhan terjadi di mana-mana. Inggris yang memiliki mata uang paling kuat non zona Euro juga ikut terjangkit. Penjarahan toko-toko mewah oleh para remaja terjadi di pusat-pusat kota. Masha Allah...
Kejadian tersebut membuat bulu kudu kita berkidik teringat reformasi 1998. Saat itu kebanyakan ruko-ruko rakyat Tionghoa yang menjadi sasaran. Bukan main malangnya mereka yang sudah terkena isu rasial, mereka juga menjadi korban pergeseran sejarah. Ibaratnya ”sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Ayo kita sama-sama berdoa negara kita yang sedang diuji terus-menerus ini tetap bertahan dengan segala keterbatasannya. Gotong-royong oleh semua lapisan mulai dari pemerintah sampai rakyat jelata yang hanya makan jelantah sangat bermanfaat insha Allah.
Kembali ke Eropa, bahkan kini Bulgaria mendapat julukan negara paling miskin sedunia. Perdana menteri mereka juga mengundurkan diri. Jaminan kehidupan bagi pengangguran di beberapa negara seperti Irlandia bahkan dikurangi dan dihapuskan. Prancis menaikkan pajak bagi orang kaya dan pemilik barang mewah. Rakyat disuruh untuk berhemat, namun dalam rapat-rapat Uni Eropa kebanyakan pemerintah negara-negara Eropa tidak setuju dengan program penghematan (austerity).
Amerika sebagai bagian dari Barat turut kelabakan dengan kondisi ini. Lalu bagaimana dengan negara kita? Paling tidak kita masih bisa melengkungkan senyuman sebesar busur Ekalaya. Walaupun di dalam negeri masyarakat banyak yang memungkiri ”kestabilan” negara ini, orang-orang di luar sana sedang sangat iri dengan negara kita lho, Sob. Investor dunia berlomba-lomba masuk ke sini. Bahkan Amerika dan Turki merasa tersinggung saat pemerintah kita berusaha membatasi impor hortikultura mereka. Sudah sejak lama pemerintah memutar otak untuk memperbaiki nasib petani kita. Paling tidak untuk memakai produksi hasil panen sendiri.
Dalam diskusi ”Aspirasi Merah Putih” di Radio RRI akhir bulan Februari 2013 ini dilansir beberapa daerah, seperti Jawa Tengah, mengalami kekurangan pasokan holtikultura setelah impor dikurangi. Namun, daerah lain yang berkecukupan dan berlebihan memasoknya. Testimoni beberapa pedagang merasa produk impor memiliki harga lebih murah dibandingkan produk dalam negeri. Namun di lain pihak petani merasa gerah dengan bertambahnya tengkulak yang usil menjadi importer yang tidak jujur. Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Insha Allah nasehat Presiden keempat Amerika, James Madison Jr., ”If men were angels, no government would be necessary,” menggambarkan situasi negara kita sekarang. “Jika manusia adalah malaikat, tak satupun pemerintah yang pantas memimpin mereka.” Memang benar masih banyak kekurangan di sana-sini, tapi kita bersyukur masih hidup di negara yang tidak terlalu kaya tapi tidak resah karena krisis. Sampai kapanpun—mulai dari era presiden Indonesia yang pertama samapai sekarang—kalau kita tidak mau belajar bersyukur sambil terus berusaha, kita tidak akan pernah merasa cukup, bahkan merasa dizalimi oleh pemerintah sendiri.
Bulan lalu Kompas melansir Indonesia meraih peringkat ke-19 indeks kebahagiaan. Tidak perlu jauh-jauh membandingkan dengan negara-negara Barat. Singapura saja yang menjadi negara lebih maju dibandingkan Indonesia di Asia Tenggara hanya bertengger di posisi 148. Setelah diulas, kebanyakan rakyat Indonesia yang disurvei merasa hidup di negeri ini memang seadanya saja dan masih banyak juga yang miskin. Namun ada satu hal yang tidak bisa mereka dapatkan di negara lain, kebahagiaan dalam kesederhanaan. Sedangkan warga Singapura merasa hidup di sana selalu dihantui dengan kompetisi yang keras dan standar hidup yang tinggi dan mewah.
Mari kita perhatikan kebiasaan masyarakat kita. Mereka dikenal dengan jam karetnya atau lebih halusnya budaya ”santai.” Rakyat kita juga masih banyak yang sesuka hati mereka dalam mengantri, berkendara, dan kegiatan lainnya. Ini berbeda sekali dengan rakyat Singapura yang serba teratur dan disiplin. Bukan berarti disiplin itu tidak baik, ya, Sobat Nida. Kebahagiaan ternyata simpel saja bagi orang Indonesia. Selama kita masih bisa menikmati kehidupan, itulah kebahagiaan.
Sobat Nida, kembali ke James Madison Jr. Walaupun beliau orang Amerika, beliau dan beberapa tokoh Amerika tidak semuanya berperangai kurang baik. Bahkan musuh mereka sendiri setuju bahwa pemikiran visioner mereka mendamaikan dunia juga ada. Mereka seperti Abraham Lincoln yang menghapus isu rasial warga kulit hitam dan perbudakan; Franklin D. Roosevelt yang menggagas perlindungan hak asasi manusia; dan Woodrow Wilson yang mendirikan Liga Bangsa-Bangsa—sebelum kita mengenal Perserikatan Bangsa-Bangsa seperti saat ini—untuk mengurangi efek Perang Dunia Pertama. Semua kembali ke personalnya masing-masing. So, mari kita mulai untuk tidak menyamaratakan penilaian kita terhadap semua orang.
Telinga dan mata kita ada dua, tapi kenapa mulut kita cuma satu? Mari buka mata dan dengar lebih banyak, Sob. Ilmu syukur ada di mana-mana. Satu lagi info yang jarang dipublikasikan media mainstream. Tahukah Sobat Nida kalau tidak semua orang Israel dan Yahudi mendukung kebijakan pemerintahnya untuk menggempur rakyat Palestina? Salah satu contohnya adalah keponakan Perdana Menteri Israel, Jonathan Ben-Artzi. Dia sampai dipenjara karena menolak melakukan wajib militer. Jonathan meyakini kepercayaannya tidak pernah mengajarinya untuk membunuh termasuk menumpahkan darah orang-orang Palestina. Sekarang dia lebih memilih belajar matematika di University of Cambridge.
Jadi, kebahagiaan itu kita yang ciptakan. Tidak peduli kita dalam keadaan sedih atau senang, kaya atau miskin, sakit atau sehat, semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Mengambil pelajaran dari orang lain, bahkan bangsa dan agama/kepercayaan lain yang positif juga menjadi cerminan dan koreksi diri kita. Tapi tetap, ”membaur bukan melebur.” Toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan atau pluralitas tidak perlu mengorbankan apa yang sudah kita yakini, khususnya Islam. Kasih dan cinta yang tulus itu ikhlas, bukan pengorbanan. Ini merupakan petikan pelajaran dari film ”Habibie Ainun” sebelum Ibu Ainun wafat. Nilai kehidupan ini juga yang dipetik dari CINTAIndonesia (Committee for Interfaith Tolerance Indonesia) yang baru saja menutup roadshow-nya di Jakarta pada 22-23 Februari 2013 lalu. Rasa syukurlah yang menjadi sumber kebahagiaan sejati insha Allah.
Bukankah janji Allah SWT itu pasti, Sob? Mari kita ingat-ingat lagi janji-Nya bahwa Dia yang akan menjamin rezeki kita. 
”Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).”

(Q. S. Huud (11): 6)
Insha Allah karena negeri ini mayoritasnya adalah kaum Muslim yang memiliki ilmu syukur, dunia mengakui ekonomi kita walaupun tidak berkembang pesat, namun stabil. Pembahasan ini pernah dibahas bersama Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa dalam tulisan penulis, ”Extraordinary Country Risk di Sebuah Ordinary Country? Urgensi Analisis Country Risk: Krisis Ekonomi ‘Global’ Milik Siapakah?”
Semoga bermanfaat, ya, Sobat Nida...

 ^___^


*(Mahasiswa Tingkat Akhir International Relations Concentration on Security and Defence Studies President University, Jababeka, Cikarang Baru, Bekasi, Jawa Barat)


gambar: Google

No comments:

Post a Comment

A Small Gift, Niko, from Rovaniemi, Finland

A Small Gift, Niko, from Rovaniemi, Finland

Welcoming Smile, Jakarta

Welcoming Smile, Jakarta

Farewell and Sunrise of My President University

Farewell and Sunrise of My President University

Sunset in My Office, Kuningan, Jakarta

Sunset in My Office, Kuningan, Jakarta

Sunset and Its Shadow

Sunset and Its Shadow

Sunset in the Fence

Sunset in the Fence

Sunset Behind My President University

Sunset Behind My President University

Witness of Teaching

Witness of Teaching

Home Backyard, Balikpapan

Home Backyard, Balikpapan

Future Wedding Cake

Future Wedding Cake

Happy to Visit Him Again

Happy to Visit Him Again

Inspiring Little Varges

Inspiring Little Varges

A Moment to Share in ICBESS, Kuta, Bali

A Moment to Share in ICBESS, Kuta, Bali

Nightly Night After Sunset

Nightly Night After Sunset

A Couple of Smiles

A Couple of Smiles

A Moment to Share of Religious/Faith Freedom with Mayor of Wonosobo

A Moment to Share of Religious/Faith Freedom with Mayor of Wonosobo

Miss My Sister and Home

Miss My Sister and Home

Blue Sky and Anyer Beach

Blue Sky and Anyer Beach

Cloudy Anyer Beach

Cloudy Anyer Beach

Kuta Beach, Bali

Kuta Beach, Bali

Blue Sky and Kuta Beach, Bali

Blue Sky and Kuta Beach, Bali

I Owe Your Sincere Prayers, My Sisters: Manda, Elza, and Eva. :)

I Owe Your Sincere Prayers, My Sisters: Manda, Elza, and Eva. :)

Like in Finland

Like in Finland
Blue and White

Sounding Interfaith Trajectory (Care), Jakarta Islamic Centre (JIC) Radio (Live)

Sounding Interfaith Trajectory (Care), Jakarta Islamic Centre (JIC) Radio (Live)

Finally, I met Ustadz Shamsi Ali, my interfaith idol.

Finally, I met Ustadz Shamsi Ali, my interfaith idol.

Being A Moderator for Mas A. Fuadi and Mas Gol A. Gong: FLP Jakarta Stadium Generale 18 2014

Being A Moderator for Mas A. Fuadi and Mas Gol A. Gong: FLP Jakarta Stadium Generale 18 2014

I Miss You, Mr. President: Gus Dur

I Miss You, Mr. President: Gus Dur

I'm a Directioner

I'm a Directioner

Thank you, Mr. Sulaiman. You're my inspiration.

Thank you, Mr. Sulaiman. You're my inspiration.

Home Sweet Home: Balikpapan

Home Sweet Home: Balikpapan

Finland is always in my heart: ASEAN Secretariat, Jakarta

Finland is always in my heart: ASEAN Secretariat, Jakarta

Pine of Life

Pine of Life
Segara Sari Manggar Beach, Balikpapan

Dandelion for Future Prince

Dandelion for Future Prince

Dandelion, the Beauty of Simplicity

Dandelion, the Beauty of Simplicity
Ciwidei, Tea Garden, West Java

Monas, Crown of Indonesia

Monas, Crown of Indonesia
Jakarta

Roof of Life

Roof of Life
Green Leaves

The Other

The Other
Ryszard Kapuścińki

Lovable "Museum Kota Tua"

Lovable "Museum Kota Tua"
Jakarta

Sunset of Day

Sunset of Day
Dormitory of President University

White Crater "Kawah Putih"

White Crater "Kawah Putih"
West Java

Welcoming Sunset

Welcoming Sunset
Dormitory of President University

Stairway to Art

Stairway to Art
ANTARA, Pasar Baru, Jakarta

Tugu Station, Yogyakarta

Tugu Station, Yogyakarta
The Coziest Economical Train

Tea Garden

Tea Garden
Ciwidei, West Java

Shadow of Life

Shadow of Life

Small Theater "Teater Kecil"

Small Theater "Teater Kecil"
Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Paser Baroe 1820

Paser Baroe 1820
Pasar Baru, Jakarta

Kintamani Hill

Kintamani Hill
Bali

Sanur Beach

Sanur Beach
Bali

Book of IR

Book of IR
Segara Sari Manggar, Balikpapan

Sky of Beauty

Sky of Beauty
Balikpapan

You Are Not Lonely

You Are Not Lonely
Gate 5 of President University

Sun of Dandelion

Sun of Dandelion

Lamp of Darkness

Lamp of Darkness
Bandung, West Java

Garden of Life

Garden of Life
Pondok Ranggon, Jakarta

Spirit of Gambres

Spirit of Gambres
Rest in Peace

Sunlight of Heaven

Sunlight of Heaven
Yogyakarta

Life is Smiling

Life is Smiling
Pursuit your happiness by laughing at your sorrow and pain.

Brotherhood

Brotherhood

Stars on the Ceiling

Stars on the Ceiling
President University

Rest in Peace H.E. Drs. Sulaiman bin Abdul Manan, MA.

Rest in Peace H.E. Drs. Sulaiman bin Abdul Manan, MA.
If you can't solve the problem of this nation, at least you don't add/worsen it.

Balikpapan, My Beloved Hometown

Balikpapan, My Beloved Hometown
Segara Sari Manggar Beach, 10 Minutes On Foot From My House

My Dearest Kitty, Gambres

My Dearest Kitty, Gambres
My Beloved Hometown, Balikpapan, Indonesia

Respecting Catholics in Harmony

Respecting Catholics in Harmony
Church of Cathedral, Jakarta, Indonesia

Lovely Brotherhood of Hinduism

Lovely Brotherhood of Hinduism
Pure in Rawamangun, Jakarta, Indonesia

Compassion of Confucianism and Buddhism

Compassion of Confucianism and Buddhism
Klenteng in Glodok, Jakarta, Indonesia

Compassion of God

Compassion of God
Karen Armstrong's Public Lecture in 30th Birthday of Mizan Publishing, Jakarta

A New Friend :)

A New Friend :)
Safari Royal Garden, Cisarua, Bogor, Indonesia

A Smile of A Friend

A Smile of A Friend
Safari Royal Garden, Cisarua, Bogor, Indonesia

He Said "Hello!"

He Said "Hello!"
Safari Royal Garden, Cisarua, Bogor, Indonesia

The Black Beauty

The Black Beauty

Rengasdengklok, the Witness of Indonesian's Independence

Rengasdengklok, the Witness of Indonesian's Independence
Karawang, West Java

Like in China

Like in China
Confucius Institute, Al Azhar University, Jakarta

Unforgetable JIDD (Jakarta International Defence Dialogue) 2012

Unforgetable JIDD (Jakarta International Defence Dialogue) 2012
Together with Prof. Gilliam Duvall, Chair, Cyber Integration and Information Integration Department, iCollege, National Defence University, USA.

Indescrible Moment of "Malam Anugerah" HRWC (Hatta Rajasa Writing Competition) 2012

Indescrible Moment of "Malam Anugerah" HRWC (Hatta Rajasa Writing Competition) 2012
Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta

Hanoman, Prince of Prambanan

Hanoman, Prince of Prambanan
Love of Ramayana
There was an error in this gadget
There was an error in this gadget